Perayaan Misa dipimpin langsung oleh Rm. Milikhiur Tamelab, Pr., S.Fil., Gr., dan dihadiri oleh para murid dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA, beserta Bapak/Ibu guru, pegawai, dan umat lainnya. Suasana syukur sangat terasa melalui lantunan lagu pujian yang mengantar seluruh umat masuk ke dalam hadirat Tuhan.
Dalam homilinya, Rm. Milikhiur mengajak umat merenungkan dua hal mendalam dari Sabda Tuhan: kesetiaan dalam melayani dan kesiapan hati untuk menerima hal baru dari Allah. Mengutip bacaan pertama, ia mengingatkan pesan Santo Paulus bahwa yang paling penting bagi seorang pelayan Kristus bukanlah pujian manusia, melainkan kesetiaan.
Para pelayan hanyalah hamba yang dipercayakan rahasia Allah. Oleh karena itu, kita tidak boleh tergesa-gesa menghakimi orang lain atau diri kita sendiri, sebab yang menilai hati manusia dengan adil hanyalah Tuhan. Di hadapan-Nya, bukan penampilan yang utama, melainkan ketulusan.
"Betapa sering kita ingin dilihat baik dan dinilai berhasil. Namun, Santo Paulus mengingatkan bahwa hidup kita sebagai orang beriman bukanlah panggung untuk mencari tepuk tangan. Hidup iman adalah ruang untuk setia meski tidak selalu terlihat," tegas Romo Milikhiur. Ia juga mengutip perkataan Bunda Teresa dari Kalkuta: "Kamu bukan dipanggil untuk sukses, melainkan untuk setia."
Seperti seorang ibu yang diam-diam mendoakan anak-anaknya, ayah yang bekerja dengan sabar, atau pelayan gereja yang setia meski tak pernah disebut namanya—di mata Tuhan, kesetiaan kecil semacam itu sangatlah berharga.
Lebih lanjut, Romo menyoroti bacaan Injil ketika Yesus ditanya mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa. Yesus menjawab dengan gambaran yang indah: anggur yang baru perlu disimpan dalam kantong yang baru. Artinya, Kabar Gembira yang dibawa Tuhan tidak bisa dipaksa masuk ke dalam hati yang tertutup, keras, dan kaku. Kasih Tuhan selalu baru, maka kita pun harus menjadi wadah yang baru.
Sering kali kita rutin berdoa, namun hati masih dipenuhi kebiasaan lama: mudah marah, gampang tersinggung, sulit mengampuni, dan iri hati. Tuhan tidak menginginkan kita sekadar menjalankan rutinitas iman, Ia ingin memperbaharui seluruh hidup kita. Anggur baru dari Tuhan adalah sukacita, pengampunan, kasih, dan harapan. Agar semua itu bisa tinggal dalam diri kita, hati kita harus dibuat lentur oleh rahmat Tuhan. Jangan sampai kita terlalu kaku untuk menerima karya Allah yang mengejutkan dan menyembuhkan.
Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan di sekolah. Sebagai guru dan pegawai, terkadang kita bekerja keras tanpa dipuji atau membantu banyak orang tanpa menerima ucapan terima kasih. Namun ingatlah: saat manusia tidak melihat, Tuhan melihat. Seorang guru mungkin harus mengajar berulang-ulang sampai suaranya hampir habis. Anak sudah dijelaskan tiga kali tetapi masih bertanya, “Pak, maksudnya bagaimana?” Padahal sang guru dalam hati sudah bergumam, “Maksudnya ya seperti yang saya jelaskan tadi!”. Tetapi, itulah makna pelayanan: tetap sabar, tetap mengajar, dan tetap mendampingi. Kesetiaan bukan berarti kita tidak pernah lelah. Kesetiaan berarti meskipun lelah, kita tidak berhenti melakukan yang baik.
Di akhir homilinya, Romo memberikan pesan penutup yang menyentuh. Untuk para guru: tetaplah setia melayani. Untuk para murid: teruslah belajar menjadi pribadi yang baik. Dan untuk kita semua: jangan takut untuk berubah. Sebab Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, melainkan hati yang mau mencintai, melayani, dan dibaharui.
Tetaplah setia. Teruslah berubah menjadi lebih baik. Dan biarkan hati Yesus menjadi hati kita.



0 Komentar